Setelah persiapan yang matang, kami bertiga, Devina, Haoritsa, dan saya, tinggal menunggu hari H.
Dan Jumat, 16 Mei 2008 adalah hari ditunggu-tunggu. Perjalanan menuju Bromo bersama Lintaswisata! Tempat berkumpulnya di samping wisma BNI ‘46 Sudirman, agak aneh memang, karena biasanya di Senayan. Tapi toh akhirnya semua bisa berkumpul. Dan jam 7 malam lebih dikit kita sudah bisa berangkat dengan satu bus AC. Dibekali makan malam Hoka-Hoka Bento, kemacetan pun kami jalani dengan ceria.

Bus yang dilengkapi TV VCD, dan musik, cukup menghibur kebosanan sepanjang perjalanan. Dan memang cukup melelahkan. Namun waktu malam jam tidur, semua dimatikan dan kita bisa tidur dengan nyenyak dinina bobokan oleh ayunan bus yang lembut.
Pagi menjelang, kita berhenti di sebuah warung Soto Kwali, di Sruwen Boyolali. Sambil sarapan secara bergilir kita juga mandi pagi meminjam kamar mandi warung. Saya sendiri mandi di sebuah rumah milik bapak-bapak yang ramah. Sepertinya dia adalah pemilik warung tempat kita sarapan.

Setelah selesai perjalanan dilanjutkan. Makan siang di sebuah restoran Surya. Ketika melewati Ngawi, dijalan luar kota tengah hutan, kami melihat beberapa polisi seperti meneliti jalanan. Vina mendengar kabar kematian Sophan Sophian dari temannya, setelah saya cari tahu, ternyata benar, kami baru melewati lokasi kejadiannya. Sebelumnya kita pun sempat melihat Rumah Sakit dan Pom Bensin yang ramai oleh club Harley Davidson. Jam 7 malam kami makan di restoran Tongas Sari, Probolinggo. Sekitar jam 9 Malam kami pun tiba dipenginapan Sukapura Permai, Bromo.
Masing-masing mendapat jatah kamar. Jam 3 dinihari kami sudah berkumpul lagi untuk persiapan menuju Bromo. Lima mobil Hartop sudah menunggu. Pembagian satu mobil sekitar 5-6 orang. Mobil saya kebagian 6 orang, Saya, Maria, Dewi, Tetra, Mba Ria, dan Atrid. Semua siap langsung berangkat.
Awalnya kita melalui jalan aspal sempit desa disana. Saya lupa nama desanya. Kemudian kami melewati gerbang masuk gunung Bromo. Sempat saya melihat tarif sewa jip di pos situ. Ternyata terbagi 3 trayek. Trayek paling lengkap adalah Jemplang – Bromo – Pananjakan. Paling mahal sekitar 245.000 rupiah. Untuk turis internasional tarifnya lebih mahal.

Setelah gerbang kami melewati jalan pasir yang panjang. Sepertinya luas namun masih tertutup kabut. Mungkin sekitar se-jam kami memasuki jalan aspal lagi. Lebih menanjak dan berliku-liku. Tujuan pertama adalah ke Pananjakan, tempat pilihan untuk menikmati matahari terbit. Disana terdapat menara BTS dan area kecil untuk pengunjung. Ada bekas reruntuhan yang tidak terurus. Di pagi yang masih gelap dan dingin, kami semua menanti matahari terbit dari ufuk timur…

Jreng………ternyata terlambat. Matahari terbit jam 6.15. Kami pun bersorak menyambutnya. Semua berfoto ria. Selesai foto sunrise, foto narsis tidak terlewatkan.
Puas, kita pun turun. Menggunakan hartop lagi, kita menuruni jalan aspal itu dan sampai di jalan pasir yang dini hari kita lewati. Ternyata itu adalah padang pasir yang luas ditengah gunung. Itu adalah bekas lava gunung Bromo yang mengering menjadi padang savana yang tengahnya terdapat anak gunung yang masih mengeluarkan asap.

Mobil diparkir, dan kita harus berjalan menuju anak gunung itu. Banyak yang menawarkan jasa kuda, bila tidak kuat berjalan cukup membantu. Karena walaupun tidak jauh, jalan itu makin lama menanjak, dan ujungnya kita harus menaiki tangga sempit menjulang sebanyak 248 langkah!

Banyaknya kuda yang lewat membuat debu berterbangan. Karena tanahnya sering ditemukan tai kuda, saya selalu menutup mulut dengan syal. Setelah perjuangan melelahkan menaiki tangga, saya pun sampai di puncak kawah. Ditengahnya curam dan mengepul asap belerang. Cukup mengerikan sebenarnya, karena hanya sisi dalam yang diberi pagar, sisi luar tidak dipasang pagar. Padahal sama-sama curam dan tinggi sekali. Selesai foto-foto dan beristirahat, kami pun turun (naik cape2 trus turun lagi??).

Perjalanan dilanjutkan ke padang Savana. Katanya disana tempat pembuatan film Pasir Berbisik karya Garin Nugroho. Yang saya bayangkan adalah lautan pasir yang rata, namun ternyata banyak juga ilalang pendeknya. Namun bukan berarti tempat itu tidak menakjubkan. Savana memang luar biasa, dikelilingi oleh pagar gunung yang tinggi menjulang.
Selesai disana kami segera pulang. Saat itu sekitar jam 9 pagi. Perut sudah keroncongan. Mas Supir yang masih muda, sepertinya ingin menunjukkan kepiawaiannya mengemudikan hartop. Namun sayang malah terjebak di pasir. Tapi dengan kepiawaiannya pula dia bisa meloloskan hartop kesayangannya keluar dari jebakan dan melanjutkan perjalanan dengan ngebut.
Sampai penginapan kami pun sarapan, mandi, dan siap-siap barang untuk berangkat lagi. Tujuan selanjutnya adalah kebun teh di Wonosari.

Tiba di tujuan sekitar sore. Tempatnya asri dikelilingi taman. Bangunannya pun berkesan kampung, didominasi kayu, dengan ruang aula bergaya panggung. Ada beberapa kandang tempat hewan-hewan eksotis lucu dipelihara. Karena sudah menjelang malam, perjalanan dilakukan besok pagi. Kami pun mengisi malam dengan makan malam bersama dan perkenalan.
Dasar memang kita tukang main, sebelum tidur kami; Saya, Devina, Haorits, Anti dan Luqman iseng-iseng ngaso dulu diteras sambil bermain kartu UNO yang dibawa Vina. Kita ketawa-ketiwi sampai lelah dan kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat.
***
Senin, akhirnya hari ke-3. Jreng!
Semua sudah siap dan pagi-pagi setelah matahari terbit kita semua mulai berjalan dipandu seorang guide pak Kombat menelusuri kebun teh. Walaupun sepanjang mata memandang ya tanaman teh, namun para trekker tetap gembira ria. Jalan yang dilalui kadang aspal yang baik kadang bebatuan saja. Menanjak dan menurun. Ditengah kebun teh yang hijau, badan lelah tetap terasa segar karena udara yang bersih dan sejuk.

Ditengah perjalanan kami berhenti untuk menikmati cemilan dan teh panas yang sudah disediakan. Tehnya nikmat, kualitas ekspor. Kata Pak Kombat teh itu manfaatnya banyak sekali, selama meminumnya tanpa gula. Hahaha. Itu yang repot. Dia juga menjelaskan perbedaan-perbedaan teh. Teh yang biasa diambil dari beberapa daun pucuk. Teh hijau, diambil hanya 2 helai pucuk daun. Ada lagi teh putih benar-benar hanya pucuk daunnya.
Dari pos cemilan kami melewati desa disana. Suasananya bersih tenang dan hijau. Sepertinya cocok untuk menghabiskan masa tua, tinggal pasang modem GSM aja untuk tetap bisa nge-blog. Hehe. Tidak lama kita sudah mencapai penginapan lagi. Selesai sarapan sebagian istirahat sebagian lagi ikut tour kebun teh menggunakan mobil kereta. Saya yang sudah siap-siap berenang dengan celana pendek malah jadi ikut tur lagi. Ternyata treknya sama saja seperti trekking tadi pagi. Cuma tidak melalui jalanan batu. Dan mobil kereta membawa kita ke pabrik tehnya langsung. Sayang tidak sembarangan orang boleh masuk ke dalam. Kebersihannya sangat dijaga. Tapi kami cukup puas dengan pengarahan petugas disana, dan dibagikan seplastik kecil teh asli untuk ekspor hasil pabrik itu.
Sekembali ke penginapan saya pun berenang. Maria, Agung, Astrid, Mba Ria, Devina, Angga dan Azis ikut juga. Kolam renangnya dekat dan kecil. Tapi yang berenang cuma Azis dan saya. Jadilah ga sampai setengah jam sudah naik ke penginapan lagi.

Setelah kemas-kemas singkat saya menyempatkan diri tidur. Sampai menjelang siang kami pun meninggalkan Wonosari. Tujuan berikutnya ke pemandian Selecta. Sebuah pemandian dengan kebun bunga yang luas seperti kembali ke jaman 80-an. Disana kita makan siang dan belanja. Banyak dijual keripik nangka, apel, juga sate kelinci. Itu menjadi pilihan menu makan siang saya.

Setelah itu kami pun eksplorasi. Kebun yang rapi, patung-patung hewan, dan taman bermain anak-anak menjadi tempat kita berlagak model cover majalah.

Sudah puas berkeringat dilanjutkan lagi sorenya ke Coban Rondo, Batu, Malang. Tempat wisata air terjun yang sangat tinggi. Tempatnya mudah dijangkau dan tidak jauh, jadi kita cukup berjalan pendek ke lokasi air terjun. Disana pun sudah dibangun jalan setapak dan area foto-foto. Kita hanya sebentar disana dan segera nongkrong di warung indomie. Sepertinya banyak dijual susu murni. Tapi saya sendiri pesan minum wedang jahe dan satu roti bakar.
Selanjutnya kita mampir tempat makan Mba Rini, Pujon Batu, Malang. Warung kecil dengan makanan yang enak. Katanya setelah itu tidak ada lagi tempat makan yang layak untuk beberapa jam perjalanan. Jadi kita paksakan makan malam lebih awal.
Kesalahan kami waktu itu makan terlalu banyak. Padahal setelah itu perjalanan berkelok-kelok. Banyak dari kami yang mabok dan mual. Saya sendiri sampai muntah-muntah. Seharusnya setelah makan istirahat dulu yang cukup agar makanan turun ke perut. Kecuali bila perjalanan berikut lurus saja. Kejadian itu membuat kami KO dan memilih segera tidur. Sampai akhirnya tiba di perhentian berikutnya untuk solat. Saat itu kami bertiga, the Odd minum secangkir teh panas untuk sendikit mengembalikan stamina. Tak lama langsung kita berangkat sampai dini hari.
20 Mei, hari terakhir. Tiba di Pringsewu untuk sarapan. Lumayan tempat yang enak untuk makan, dipinggiran kota. Kami sarapan disana dan ternyata kami mendapat surprise perayaan ulang tahun. Karena salah satu dari kami ada yang ulang tahun dibulan Mei, managemen restoran memberi hadiah hiburan dan atraksi sulap. Hahaha. Marketing yang bagus.
Selesai sarapan saya mandi pagi dan kemudian cauw.
Sampai di Brebes mampir dulu beli telor asin, dan caw lagi…
Tidak ada perhentian lagi sampai kita masuk Jakarta. Perhentian terakhir di Wisma BNI ‘46 sekitar pukul 2 siang. Perjalanan yang melelahkan namun mengasyikan pun berakhir. Kami pun pulang ke rumah masing-masing dengan wajah lelah dan senyum puas…

hallooooo…….
Boss, restoran yang di tongas namanya Tongas Asri…..
Met kenal buat semua personil Lintas wisata…….
hai blognya keren. nemu dari google pake keyword restoran tongas tadi saya jg mampir sambil menikmati hotspot speedy gratisnya.. salam kenal ya
http://www.cyrius.je.ro