Tanggal 25 April 2008 saya bergabung bersama komunitas Natrekk mengunjungi goa Buniayu di Sukabumi. Berangkat jam 8 malam dari Parkir TImur Senayan naik bus. Kami lewat jalan tol, sesampainya di Ciawi spertinya ada kecelakaan sehingga kami sempat terjebak macet sekitar 3 jam. Setelah itu kami melewati jalan berkelak kelok namun sebagian besar penumpang bus sudah terlelap tidur. Jam 4 pagi akhirnya kita tiba di gerbang jalan setapak menuju desa Buniayu. Karena jalan menuju desa tersebut merupakan jalan setapak yang kecil, hanya mobil dan kendaraan roda 2 yang bisa lewat, kita pun harus menempuhnya dengan jalan kaki.

Pos di rumah penduduk (waktu siang)
Tidak sampai 1 jam kita sudah sampai. Goa tersebut berada di sebuah desa kecil ditengah hutan pinus dan sawah. Langsung dibagi ke beberapa kelompok untuk di pos kan di rumah penduduk yang disewa. Istirahat kita tidak lama, karena jam 6 kami sudah harus siap-siap memasuki goa. Ada 2 goa disana, goa wisata dan goa natural. Dan goa natural itulah yang akan kita masuki, istilahnya caving.
Satu persatu kita diberi perlengkapan caving, terdiri dari helm+head lamp, baju bengkel, dan sepatu boot. Kemudian kami dipasangkan webbing, yaitu tali ikatan dipanggul untuk rappeling.
Setelah semua siap, kami pun berjalan pendek menuju kebun belakang kampung. Kami menemukan lubang besar berbatu, disitulah lubang masuk goanya. Lubang masuk gua itu sendiri kecil dan sempit seperti sumur pipih, guide sudah menyiapkan tali-tali rappeling dan kita satu persatu diturunkan. Ternyata didalamnya terdapat ruang yang luas dan tinggi. Setelah semua selesai diturunkan (21 orang), perjalanan pun dimulai.

Menelusuri gua aka Caving
Stalagtit, stalagmit, batu2, sungai kecil, lebar, deras, pelan, kami lalui. Kadang kami harus bergaya ala pemanjat tebing untuk melewati rintangan-rintangan di sepanjang jalan goa. Cukup menyenangkan. Setelah perjalanan yang panjang dan mulai membosankan, kami dikejutkan oleh rintangan terberat; lumpur! Lumpurnya tidak terlalu dalam, hanya selutut, tapi cukup membuat kami bersusah payah dan bermandikan lumpur. Paling efektif kita melaluinya dengan merangkak, sebab kalau menginjak, kaki kita langsung ambles kedalam lumpur. Sepatu bot (atau apapun alas kaki kita) sebaiknya dilepas, karena bila terbenam, sulit sekali diangkat lagi.
Ibu Eri, salah seorang dari tim kami, hampir tidak sanggup lagi melanjutkan perjalanan. Dia tertinggal dibelakang dan untungnya dibelakang adalah para laki-laki tangguh. Bersama-sama kita membantu Ibu Eri untuk bisa terus melanjutkan perjalanan. Walau sangat kelelahan, tapi justru itu menambah serunya perjalanan kami.
Sempat kami harus memanjat tangga kabel baja yang dibawa oleh guide kami. Sekitar 3 jam penyelusuran, akhirnya kami sampai dilubang keluar. Terdapat tangga semen pendek keatas. Lega luar biasa…

Keluar gua bermandikan lumpur (btw, itu botol minuman ya)
Ada kali kecil di sawah untuk sedikit membersihkan diri. Kemudian kami masih harus menulusuri jalan setapak diantara sawah dan kebun. Sekitar 1 kilo akhirnya sampai di air terjun dimana para peserta lain sudah menunggu.

Diatas air terjun mandi membersihkan lumpur
Diatas air terjun yang airnya tenang, kami membersihkan diri dan pakaian bengkel kami. Yang tidak ikut caving kebagian melakukan trekking ke lokasi air terjun. Trekking istilah untuk penelusuran alam bebas dengan berjalan kaki.
Disana terdapat tali panjat untuk rappeling. Rappeling adalah teknik turun dengan menggunakan tali yang biasa dilakukan oleh tentara. Setelah bersih-bersih saya pun ikut mencobanya.
Cukup mendebarkan, karena ini pertama kalinya buat saya. Saya perhatikan sebenarnya cukup sederhana, posisi tubuh dijaga selalu horizontal. Kedua kaki terbuka menapak di ‘dinding’ untuk menjaga keseimbangan. Tangan kiri mencengkram tali yang atas, dan tangan kanan di tali yang bawah. Untuk turun, tangan kanan mendorong tali keatas sehingga simpul melonggar dan tubuh pun turun perlahan. Jadi sesungguhnya bila tangan kanan dilepas, tubuh kita tidak akan merosot kebawah karena simpul tali cukup kuat ‘mengikat’ tubuh kita.

Rappeling di air terjun paling mengesankan
Itu teorinya, pelaksanaannya, ternyata dorongan air terjun cukup membuat saya kewalahan. Untuk menjaga tubuh tetap horizontal, kaki saya harus melawan dorongan air yang jatuh. Belum lagi permukaan dinding air terjun yang extreme tidak rata. Dengan susah payah alhamdulillah saya berhasil dengan baik sampai bawah. Begitu kaki menginjak tanah, baru terasa pegalnya, sampai sulit untuk berdiri. Sisa lelah caving tadi, langsung dihajar air terjun, membuat dengkul saya seperti mau copot.
Setelah makan siang dilokasi, saya dan beberapa teman berjalan kaki menuju rumah pos kami. Yang lain sudah lebih dulu berangkat. Selama satu jam perjalanan akhirnya sampai juga. Kami mandi dan harus segera membereskan perbekalan kami untuk dipindahkan ke area tenda karena waktu sewa rumah sudah habis. Area tenda itu sendiri sangat dekat.

Area kemping
Tenda-tenda sudah dibangun melingkar. Ditengah disediakan untuk api unggun. Banyak yang mulai memasak ala camper. Dengan kompor mini justru bikin makin seru. Sore diisi oleh berbagai permainan.
Malam tiba, dan api unggun dinyalakan. Makan malam dengan menu utama sate kambing disajikan. Setelah selesai kami disuguhi tontonan seru atraksi sepeda BMX. Dengan rintangan orang berjejer, kadang jg duduk, mereka dapat melompat tanpa dibantu pijakan diagonal. Benar-benar menegangkan.

Reymond, Yeyen, Marley, dan Saya
Setelah itu bingkisan dibagikan untuk pemenang permainan. Para peserta mulai lelah dan mengantuk. Satu persatu memasuki tenda masing-masing untuk istirahat. Karena saya lihat tenda saya cukup penuh, saya turun untuk tidur di rumah panitia. Hehehe. Awalnya sepi, tapi tak lama ternyata ada 3 orang peserta lain yang ikut tidur disitu.
Zzz…. kukuruyuk
Udara pagi yang segar, dan sinar mentari yang hangat. Bersihnya udara yang dihirup, memulihkan kesegaran tubuh seketika. Khusus hari terakhir panitia tidak menyediakan sarapan. Para campers pun masak sendiri-sendiri dengan kompor mini masing-masing. Saya sendiri beli indomie diwarung penduduk. Hihihi.
Sambil menunggu para caver kloter ke-2 yang sudah sejak dini hari tadi berangkat, kami berkumpul untuk mendengarkan perkenalan dari panitia. Juga ada sesi curhat dari peserta Natrekk.

Sebelum pulang tak lupa narsis dulu
Setelah para caver datang, satu persatu tenda dibereskan. Karena saya tidak membawa tenda, saya ikut bantu-bantu saja. Bantu nyusahin maksudnya. Yang sudah selesai turun ke pos awal untuk menunggu yang lain. Saya bolak-balik naik-turun gara-gara jaket kelupaan melulu. Maklum jaket baru.

Diana dan saya mengejar sepeda.
Setelah selesai semua, kami pun berangkat jalan kaki ke atas tempat bus menunggu di jalan raya utama. Diatas sesi narsis pun diteruskan, setelah bikin macet baru kami berangkat pulang.

Berfoto digerbang masuk mengganggu lalu lintas
Makasih buat Yeyen udah ngajak dan dampingi saya (yang masih lugu) disana. Juga Omipang, Ismi berserta seluruh panitia. Selamat atas keberhasilan acaranya. Juga teman-teman disana, Marley, Agung, Ano, Echa, Fita (atas spare questionnya) siapa lagi ya…. banyak deh. Khusus buat Putri kamu makasihnya ke saya ya. Hehe. I had a great time
Foto2 diambil dari Yeyen, caving dari Endang.
Catatan Pribadi
Caving awalnya memang seru, namun lama kelamaan terasa bosan juga. Pengalaman dilumpur cukup mengobati kebosanan. Justru saya lebih menikmati rappeling air terjun, walau sebentar namun sangat berkesan. Mungkin karena pertama kali dan itu merupakan skill khusus yang beresiko dan harus bermodal nekat dan keberanian. Ada unsur ketegangannya.
Basicly acara outdoor memang menyenangkan buat saya. Dulu ikut rafting (arung jeram) rasanya seru banget. Pengen coba lagi. Juga kalau kepantai saya suka berenang di laut. Mungkin olah raga air memang cocok buat saya.
Berikut beberapa tip yang saya buat bila nanti saya ke Buniayu lagi,
Camping
- Perlengkapan masak. Sepertinya seru juga masak memasak ala camper.
- Tenda. Kalau menginap tentunya.
- Pakaian hangat. Udara disana tidak terlalu dingin. Sleeping bag saya rasa tidak perlu.
- Senter besar. Jangan yang kecil ya
- Sepatu trekking. Boot yang disediakan memang melindungi kaki, tapi bikin berat untuk jalan. Sepatu trekking dirasa cukup, namun hati-hati bila melewati sungai karena permukaan tanah didalamnya tidak terlihat.
- Lumpur. Segala alas kaki sangat dianjurkan dilepas. Atau berjalan dengan merangkak.
- Tas kecil. Diutamakan kedap air untuk menyimpan camera. Juga untuk perbekalan minum atau makan. Pilih yang praktis dibawa.
- Baterai AA. Head lamp yang tersedia tidak meyediakan baterai. Lebih efektif lagi bawa sendiri :
- Head Lamp.
- Kendaraan Pribadi. Untuk kenyamanan. Bisa langsung parkir di desanya.
Keluar gua bermandikan lumpur (btw, itu botol minum ya)
BWUAHAHAHAHAHAHAHAAA…
Teteub semangaaattttttttt
criiinnkkssssss……
Kang Aryan……..mantaaabbss euy !
Somehow i missed the point. Probably lost in translation
Anyway … nice blog to visit.
cheers, Linebacker.