Mei 31 – Juni 1 2008, The Most Un-prepared Trip!
Yap! Gara-gara malem ga siap-siap, dan paginya telat bangun! Janji kumpul jam 7 pagi, bangunnya jam 7 pagi pula. Gemblung.
Comot seadanya dan tanpa mandi pula. Beberapa potong kaos, celana dalam cadangan, sleeping bag. Pinjem mobil kakak dan langsung meluncur ke perempatan Pancoran. Disana sudah beberapa anak berkumpul. Untungnya anak-anak masih santai saja.
2 Mobil dari Jakarta menuju Ciawi. Saya satu mobil dengan Mas Opang, Nuning, Mba Rahmi dan Didi. Sempet salah jalur di tol, gara-gara saya demam tol. Biasanya naik motor, jadi kalau naik mobil masuk tol suka grogi. Akhirnya harusnya ngambil kiri arah Bogor malah lurus ke Cikampek. Huhuhu. Maaf ya kawan-kawan.

Iya, saya yang nyetir mobil. Keluar tol Ciawi ketemu tim dari Bogor, ada 4 mobil. Setelah berdoa bersama kita pun beriringan ke Sukabumi. Disana mampir sebentar di mesjid, dan segera berangkat ke Cianjur. Diperjalanan sempat berhenti untuk menjemput Emma, dan menjadi personil kita juga.

Jam satu kita sudah mencapai jalan masuk menuju Gunung Padang. Namun perut belum terisi, jadi mampir dulu di Sunda Rasa jam 02.00 siang. Dengan segera kita melahap makanan. Jam 02.30 perjalanan dilanjutkan.

Ancer-ancer jalan masuk ke Gunung Padang adalah ada patung ayam besar di sebuah restoran pinggir jalan. Terdapat juga plang arahnya. Jalan masuknya merupakan jalan pedesaan yang kecil dan berkelok. Namun salah satu mobil terjadi masalah. Rupanya saringan udaranya kotor, sehingga kita pun harus menunggu. Untunglah di kanan kiri jalan desa itu merupakan sawah hijau yang sejuk. Kita bahkan menyempatkan diri untuk berfoto ria.

Tidak bisa menunggu lebih lama, sebagian mobil langsung menuju sasaran. Jalan tidak selalu mulus, sering juga rusak dan berlubang. Saat menaiki gunung terdapat hamparan kebun teh yang luas. Lumayan menghibur kepayahan kita.


Tapi bagaimanapun, jalan berbatu dan menanjak di akhir perjalanan memang betul-betul merepotkan. Namun segera, pada jam 5 sore, kita sampai di rumah kuncen (juru kunci) Situs Megalitih, situs terbesar se Asia Tenggara.

Ada tangga terjal sangat menanjak dekat rumah kuncen tadi. Mungkin 70-80 derajat dari susunan batu yang tidak rata dan sempit pijakan. Itulah tangga menuju situs. Kita harus mendakinya. Kira-kira ada 200an anak tangga, lumayan melelahkan.

Namun sambutan diatas memang luar biasa. Batu-batu berbentuk balok persegi panjang tersusun-susun dihamparan rumput Jepang. Menakjubkan. Walau tidak rapi, namun sangat mudah terlihat bagaimana susunan-susunan itu dulunya membentuk bangunan-bangunan sederhana. Membayangkan itu dibangun pada zaman megalitikum, memang luar biasa.

Dari keterangan kuncen, dulu susunan-susunan itu rapih diantara pepohonan besar. Karena pohon-pohon itu ditumbangkan, batu-batu itupun banyak yang tertimpa pohon dan menjadi tak rapi lagi. Yang mengherankan saya kenapa tidak difoto atau gambar dulu sehingga bisa dirapikan lagi setelahnya.

Ada 4 tahap area, dan masing-masing makin menanjak. Paling atas makin sedikit bebatuannya, dan disana kita mendirikan tenda. Rumput yang pendek membuat nyaman bertenda. Ada pendopo kecil, dan untuk buang air kecil atau cuci-cuci dikit harus menyusuri jalan setapak diladang belakang area camping. Nanti dijumpai toilet berupa gubuk kecil dipinggir sawah dilembah yang luas. Karena saat itu sudah gelap, jadi tak tampak pemandangannya. Yang ada kita hanya kedinginan.


Tenda sudah didirikan, dan kita berkongkow-kongkow ria di atas matras yang digelar. Ada yang membawa DVD player dan kita nonton ramai-ramai. Tanpa diduga ada gerombolan tambahan datang malam-malam. Yeyen, Ebbie, Dewi, Ramaditya, dan sahabatnya.

Ramaditya adalah sosok istimewa, ia adalah seorang tunanetra yang sudah memberi banyak sumbangan karya luar biasa. Namanya sudah tercatat di rekor Muri sebagai orang tunanetra pertama yang memiliki blog di internet. Karya-karya lainnya seperti membuat software untuk handphone yang dapat mengeluarkan suara disetiap perintah dan tampilannya, sehingga memudahkan bagi tunanetra untuk menggunakannya. Banyak juga developer game-game digital taraf internasional menyewanya untuk membuat sound effect dan music game mereka. Keahliannya bahkan melebihi kita yang bisa melihat ini. Dia menyusul kita pun hanya seorang diri berangkat dari Jakarta.
Kehadiran rama sangat memberi warna ditrip kali ini. Ternyata dia orang yang sangat expresif. Sangat percaya diri dan senang bercanda. Kecenderungannya bahkan ceriwis dalam bicara bahkan juga laku. Membuat suasana camping menjadi seru dan ramai.

Setelah melalui makan malam, perkenalan, dan demonstrasi dari Rama, malam pun makin larut. Satu persatu mulai memasuki tenda masing-masing. Berhubung saya tidak ada tenda, akhirnya harus tidur di pendopo. Tidak hanya saya, beberapa teman juga tidur di pendopo. Posisi tidurnya rapat berjejer untuk mengantisipasi udara yang dingin. Beberapa masih berkumpul dan bercanda bersama Rama.
***

Subuh saya sudah bangun. Suasana tenda masih sepi. Beberapa juga bangun dan bersama kebawah mengambil air wudhu. Tidak lama telah banyak yang bangun untuk menikmati matahari terbit. Kita pun berpencar menelusuri situs untuk berfoto-foto. Terpaan matahari pagi yang hangat di udara yang dingin memberi kecerahan dihati kami.

Waktu sarapan tiba. Bak mengantri sembako kita menunggu giliran dibagikan. Yeyen dengan semangat memasakkan kami Indomie. Setelah kenyang saya baru teringat kalau belum mandi sejak kemarin! Saya pun cepat-cepat turun ke rumah kuncen untuk numpang mandi. Ternyata dibawah tangga batu pertama memang ada wc umum. Saya pun mandi disitu.

Selesai mandi kayaknya males juga ya naik lagi. Dibawah sudah ada keluarga Om Hanif dan Ezra beserta teman. Yang lain masih diatas berfoto-foto dan membongkar tenda. Akhirnya saya memilih istirahat saja dibawah sambil tiduran dimobil menunggu yang lain turun.

Setelah semuanya turun, segera kita berangkat pulang. Sempat sebelumnya terdapat salah komunikasi dengan tim kuncen. Proposal biaya yang mereka ajukan tidak sepadan dengan kami. Akhirnya untuk 36 orang kami mengeluarkan 300ribu. Tidak menjadi masalah buat kami yang penting kita senang. Perjalanan pulang dirasa lebih cepat dan mudah dibanding saat berangkat. Mungkin karena menuruni gunung.

Foto-foto dikebun teh berlangsung singkat. Masing-masing mobil sudah memiliki rute masing-masing. Ada yang langsung ke Puncak, ada yang lewat Cigombong, saya dan gerombolan mobil Charlie mampir makan es teler 77 di mall Cianjur.
Selesai makan kami berpencar lagi dan saya ambil arah Puncak. Sampai di Mesjid Puncak kami berhenti sebentar untuk solat dan istirahat. Sekalian menunggu jalan Puncak dijadikan satu jalur. Biasanya pada jam 3 sampai 6 jalan dipuncak dijadikan 1 jalur. Kalau sabtu dari arah Bogor, kalau minggu dari arah Cianjur. Maka kita pun bisa lancar meluncur keBogor. Tapi hati-hati, untuk motor masih boleh 2 arah.
Alhamdulillah selamat sentosa sampai di Jakarta. Mas Opang turun di Uki. Yang lain minta turun di Telkom Jakarta Timur. Oh Iya, tim mobil saya berubah sedikit. Mas Opang, Nuning, Didi, dan 2 lagi saya lupa. Nanti tanya Mas Opang. Hehe. Akhir kata, semua senang semua puas… Amien!



